Pernah nggak sih, kamu niatnya cuma buka HP sebentar buat balas chat atau cek jadwal besok, tapi stiba-tiba jam dinding sudah bergerak dua jam lebih? Jempol kamu bergerak otomatis, scroll TikTok, Instagram Reels, atau youtube tanpa henti. Padahal, konten yang dilihat juga nggak penting-penting amat.
Kalau kamu sering mengalami ini, selamat datang di klub. Kamu nggak sendirian, dan yang lebih penting: kamu nggak "rusak". Kamu hanya sedang masuk ke dalam perangkap biologis yang dirancang dengan sangat jenius oleh para insinyur teknologi.
Fenomena ini sering kita sebut sebagai "doomscrolling". Tapi, apa sebenarnya yang terjadi di dalam kepala kita saat fenomena ini berlangsung? Apakah otak kita benar-benar "lecet" gara-gara kebanyakan nonton video kucing lucu?
Mari kita bedah sains di balik layar HP-mu.
Mengenal "Kurir" Bernama Dopamin
Sebelum kita menyalahkan HP, kita harus kenalan dulu sama pemeran utamanya: Dopamin.
Banyak orang salah kaprah mengira dopamin adalah "molekul kebahagiaan" (happiness molecule). Mereka pikir, saat kita dapat like banyak di Instagram, otak kita banjir dopamin dan kita jadi bahagia. Kenyataannya? Kurang tepat.
Dalam neurosains (ilmu saraf), dopamin sebenarnya adalah molekul "motivasi dan keinginan" (desire and motivation). Dopamin adalah neurotransmitter—zat kimia pengantar pesan antar sel saraf—yang tugas utamanya bilang ke otak kamu: "Eh, itu tadi enak/seru! Ayo lakukan lagi sekarang juga!"
Dopamin bukan tentang kenikmatan saat kamu memakan cokelat, tapi dopamin adalah rasa "nagih" yang membuat kamu ingin mengambil potongan cokelat kedua. Dopamin adalah zat yang mendorong kita untuk mencari makan, belajar, dan bertahan hidup. Tanpa dopamin, nenek moyang kita mungkin akan malas berburu dan manusia sudah punah.
Masalahnya, otak purba kita ini sekarang berhadapan dengan teknologi super canggih.
Rahasia Fitur Scroll di HP-mu
Pernahkah kamu bertanya-tanya, kenapa fitur feed di media sosial selalu menggunakan sistem scroll ke bawah (infinite scroll) atau pull-to-refresh (tarik untuk menyegarkan)?
Desain ini tidak dibuat sembarangan. Mekanisme ini memanfaatkan prinsip psikologi yang disebut Variable Reward Schedule (Jadwal Hadiah Tak Terduga). Konsepnya mirip seperti saat kita membuka kado misterius atau menunggu pengumuman undian.
Begini cara kerjanya:
Aksi: Kamu scroll layar ke bawah.
Ketidakpastian: Kamu nggak tahu apa yang bakal muncul selanjutnya. Apakah video lucu? Berita politik yang bikin emosi? Atau foto teman yang baru liburan?
Hadiah: Tiba-tiba, muncul satu konten yang sangat menarik (hadiah).
Otak manusia sangat menyukai ketidakpastian semacam ini. Kalau kamu tahu setiap kali buka IG isinya pasti membosankan, kamu nggak akan membukanya. Tapi karena ada kemungkinan kamu nemu sesuatu yang seru (hadiah tak terduga), dopaminmu melonjak drastis sebelum kamu bahkan melihat kontennya.
Lonjakan dopamin inilah yang membuat jempolmu bergerak sendiri alias auto-pilot. Otakmu berteriak, "Satu kali lagi scroll! Kali ini pasti ada yang seru!"
Lingkaran Setan: Dopamine Loop
Di sinilah bahayanya. Ketika kita membanjiri otak dengan dopamin buatan yang berlebihan dari media sosial, otak kita punya mekanisme pertahanan diri bernama Homeostasis (keseimbangan).
Bayangkan otakmu punya timbangan. Kalau sisi "kesenangan" terlalu berat karena dopamin terus-menerus, otak akan mencoba menyeimbangkannya dengan menekan reseptor dopamin atau mengurangi produksinya. Akibatnya?
Kamu mengalami Dopamine Downregulation (Penurunan sensitivitas dopamin).
Efeknya mirip toleransi pada obat-obatan. Dulu, main HP 15 menit sudah cukup seru. Sekarang, kamu butuh 2 jam scrolling hanya untuk merasa "normal". Ketika kamu lepas dari HP sebentar saja, kamu merasa bosan, gelisah, atau cemas.
Anak zaman sekarang sering bilang ini FOMO (Fear of Missing Out), padahal secara biologis, itu adalah otakmu yang sedang "sakaw" dopamin ringan. Kamu merasa ada kekosongan yang harus segera diisi dengan stimulus baru.
Apakah Otak Kita Jadi Rusak?
Ada kabar buruk ges. Penggunaan media sosial yang ekstrem memang memengaruhi struktur otak, terutama pada bagian Prefrontal Cortex. Ini adalah bagian otak di belakang dahi yang bertugas sebagai "CEO"-nya otak: mengatur fokus, mengambil keputusan, dan mengendalikan impuls.
Ketika kamu terbiasa dengan video durasi pendek (15-60 detik), Prefrontal Cortex kamu jadi jarang "olahraga" untuk mempertahankan fokus jangka panjang. Inilah kenapa sekarang rasanya susah banget baca buku pelajaran tebal tanpa merasa ngantuk atau bad mood. Otakmu sudah terbiasa dengan gratifikasi instan (kepuasan cepat).
Kabar baiknya: Otak manusia memiliki kemampuan ajaib bernama Neuroplastisitas.
Otak kita itu lunak dan bisa berubah. Jalur saraf yang rusak atau melemah bisa dibangun kembali. Jadi, otakmu tidak rusak permanen, dia hanya sedang "terlatih" untuk hal yang salah. Kamu bisa melatihnya kembali.
Tips "Healing" untuk Otak
Kita tidak mungkin membuang HP dan hidup di gua. Tapi, kita bisa mengambil alih kendali. Berikut adalah cara ilmiah untuk mereset sistem dopaminmu tanpa harus jadi anti-teknologi:
1. Buat Hambatan (Friction)
Otak itu pemalas. Kalau akses ke TikTok/IG dibuat susah, otak akan mikir dua kali.
Hapus shortcut dari home screen. Sembunyikan aplikasinya di dalam folder.
Matikan notifikasi. Bunyi "ting" adalah pemicu dopamin eksternal yang paling jahat. Jangan biarkan HP yang menyuruhmu kapan harus melihatnya.
2. Latihan Fokus Jangka Panjang
Lawan efek video pendek dengan aktivitas "lambat". Baca novel fisik (bukan e-book), main puzzle, atau olahraga lari tanpa bawa HP. Paksa Prefrontal Cortex kamu untuk bekerja lagi. Awalnya pasti berat dan membosankan, tapi itu tanda otakmu sedang re-wiring (menyambung ulang kabel sarafnya).
3. Grayscale Mode
Ini trik rahasia para CEO teknologi. Ubah layar HP kamu jadi hitam putih (grayscale). Tanpa warna-warni merah notifikasi yang mencolok atau warna video yang cerah, otak purba kamu akan menganggap HP itu benda yang membosankan. Daya tarik "kejutan"-nya akan hilang drastis.
4. "Touch Grass" Secara Harfiah
Istilah Touch Grass sering dipakai buat nyuruh orang keluar rumah. Tapi secara sains, melihat pemandangan alam terbukti menurunkan hormon stres (kortisol) dan menyeimbangkan kembali sistem dopamin secara alami. Cahaya matahari pagi juga mengatur ritme sirkadian yang sering rusak karena sinar biru HP.
Kesimpulan
Media sosial tidak jahat, tapi dia didesain untuk mengeksploitasi kelemahan biologi kita demi keuntungan iklan. Scroll media sosial tidak lantas membuat otakmu "membusuk", tapi jelas mengubah cara kerjanya menjadi lebih tidak sabaran dan sulit fokus.
Ingat, dopamin adalah bahan bakar untuk mengejar mimpi, bukan sekadar untuk mengejar konten viral. Jangan habiskan "bensin" mahal itu cuma buat muter-muter di jalan raya algoritma yang nggak ada ujungnya.
Jadi, setelah membaca kalimat terakhir ini, yuk taruh HP-mu. Ambil napas panjang. Dunia nyata sudah menunggumu.


Posting Komentar
Posting Komentar