Jujur saja, sebelum saya mengikuti webinar "Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat", saya termasuk orang yang kalau mendengar kata mangrove langsung teringat pada hutan pesisir, akar yang menjulang ke mana-mana, dan foto-foto estetik buat konten traveling. Selesai. Tidak lebih. Ada yang sama? 😆 Ternyata saya salah!

Kemarin saya mengikuti webinar yang diadakan oleh Eco Blogger Squad (EBS) dan The Asia Foundation (TAF) dengan tema "Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat". Dalam webinar tersebut, saya baru mengetahui bahwa bagi masyarakat di Kampung Friwen, Raja Ampat, mangrove bukan hanya pelindung pantai. Mangrove juga menjadi bagian dari sumber pangan dan penghidupan masyarakat.
Bahkan buah mangrove dapat diolah menjadi berbagai produk pangan yang bernilai ekonomi. Kisah ini disampaikan melalui pengalaman Pak Wawiyai Steve dan masyarakat yang berupaya menjaga ekosistem mangrove sambil memanfaatkannya secara berkelanjutan.
Saat mendengar cerita itu, saya langsung teringat pada satu makanan khas Kalimantan yang unik juga, namanya mandai. Kalau orang Makassar Sulsel pasti mengiranya nama kecamatan, tapi di Kalsel, ini adalah nama makanan.
Mangrove dan Mandai mungkin terdengar seperti dua hal yang tidak ada hubungannya? Yang satu adalah pohon mangrove di Raja Ampat, yang satu lagi kulit cempedak yang difermentasi di Kalimantan.
Tapi semakin saya pikirin, keduanya ternyata memiliki pesan yang sama, yup, alam tidak pernah menyediakan sesuatu secara sia-sia.
Saat mendengar cerita itu, saya langsung teringat pada satu makanan khas Kalimantan yang unik juga, namanya mandai. Kalau orang Makassar Sulsel pasti mengiranya nama kecamatan, tapi di Kalsel, ini adalah nama makanan.
Mangrove dan Mandai mungkin terdengar seperti dua hal yang tidak ada hubungannya? Yang satu adalah pohon mangrove di Raja Ampat, yang satu lagi kulit cempedak yang difermentasi di Kalimantan.
Tapi semakin saya pikirin, keduanya ternyata memiliki pesan yang sama, yup, alam tidak pernah menyediakan sesuatu secara sia-sia.
Dari Raja Ampat, Saya Belajar Bahwa Hutan Bisa Menjadi Dapur
Dalam webinar tersebut, saya belajar bahwa hutan mangrove tidak hanya berfungsi menjaga ekosistem pesisir. Mangrove juga mendukung ketahanan pangan masyarakat melalui keberadaanya bisa menjadi penjaga ekosistem hasil laut seperti kepiting dan kerang, hingga buah mangrove yang dapat diolah menjadi tepung, minuman, dan camilan. Jadi produk mangrove bahkan bernilai ekonomi untuk masyarakat setempat.Bagi masyarakat pesisir, menjaga mangrove berarti menjaga sumber makanan mereka, termasuk masa depan generasi selanjutnya.
Sering kali kita membayangkan ketahanan pangan hanya berasal dari sawah atau kebun bukan? Padahal hutan, pesisir, rawa, dan ekosistem alami lainnya juga menjadi sumber kehidupan bagi banyak masyarakat di Indonesia.
Apa Hubungannya dengan Mandai?
Sebagai orang yang pernah mengenal berbagai kuliner khas Indonesia, saya selalu menganggap mandai sebagai makanan yang sangat unik dan sangat enak (bangeeet).Bagi yang belum familiar, mandai adalah makanan khas Kalimantan yang dibuat dari kulit cempedak yang difermentasi. Tahapannya kurang lebih seperti ini:
- Kulit cempedak dikupas, dan dibersihkan
- Kulit dijemur selama kurang lebih 1 hari
- Kulit dicampur dengan air garam di wadah yang tertutup
- Setelah terfermentasi dengan baik (kadang ada orang juga yang langsung mengolah tanpa fermentasi), kulit bisa diolah menjadi berbagai macam masakan. Seperti sayur oseng atau sambal mandai.
Sebenarnya pengolahan mandai ini cukup mudah, syukurnya di sini stoknya juga melimpah. Sering banget melihat jualan mandai yang diobral di mobil pickup dengan harga 10 ribu per buah. Tapi untuk kulit fermentasinya (mandai) itu sendiri memang harganya cukup mahal per kilonya. Sekitar 60-ribuan/kg. Hmmm, mirip harga lauk ikan nila? Kalau ingin beli yang sudah jadi juga ada, tentunya lebih murah beli yang masih mentah yang belum dimasak ya.
Poin yang menarik memang, bahan utama mandai bukan buah cempedaknya. Melainkan kulitnya. Yup, bagian kulit sisa yang sering dibuang ini mungkin masih bisa dimanfaatkan jadi kompos atau hanya berakhir jadi sampah. Namun ternyata, kulit cempedak yang dianggap sisa ini justru diberi kehidupan kedua. Dan dari situlah lahir mandai.
Ketika Tidak Ada yang Terbuang
Saya mulai melihat benang merah antara mangrove dan mandai. Di Raja Ampat, masyarakat belajar memanfaatkan mangrove secara bijak tanpa merusak ekosistemnya. Buah mangrove diolah menjadi produk pangan, sementara hutannya tetap dijaga.Di Kalimantan, masyarakat memanfaatkan kulit cempedak yang sering dianggap limbah menjadi makanan yang bernilai.
Keduanya mengajarkan prinsip yang sama: Ambil seperlunya. Manfaatkan semaksimalnya. Jaga kelestariannya.
Kadang kita terlalu sering melihat alam dari sudut pandang manfaat instan. Buahnya dimakan. Kayunya dipakai. Lalu selesai. Padahal banyak masyarakat adat dan komunitas lokal yang menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan alam bisa jauh lebih bijaksana daripada itu.
Ketahanan Pangan Bisa Dimulai dari Hal Sederhana
O ya, mungkin ada yang bertanya-tanya, kalau misalnya di Raja Ampat, mereka melakukan yang namanya sistem zonasi agar konservasi tetap dilestarikan.
Jadi
pada peta penyebaran Mangrove di Raja Ampat, wilayah-wilayah Mangrove
ditandai dengan warna. Secara singkat menjelaskan, ada wilayah yang bisa
dimanfaatkan untuk diolah kembali, dan ada juga wilayah yang tidak
boleh disentuh sama sekali. Jadi, InsyaaAllah tidak ada eksploitasi
hanya untuk keuntungan ekonomi.
Tentang bagaimana masyarakat lokal memanfaatkan sumber daya alam tanpa menghabiskannya. Tentang bagaimana pengetahuan tradisional yang diwariskan turun-temurun ternyata masih sangat relevan di tengah berbagai tantangan lingkungan saat ini.
Dan mungkin, tentang bagaimana kita perlu lebih sering bertanya:
"Apakah ada potensi yang selama ini luput kita lihat?" Karena siapa sangka, buah mangrove bisa menjadi pangan. Dan siapa sangka, kulit cempedak bisa menjadi makanan favorit banyak orang.
"Alam tidak pernah menyisakan limbah. Kitalah yang kadang belum melihat nilainya."
Penutup: Alam Selalu Punya Cara Mengajari Kita
Dari webinar tentang mangrove, saya tidak hanya belajar mengenai konservasi.Selama ini saya mengenal mangrove sebagai penjaga pesisir. Namun setelah mengikuti webinar EBS x TAF tentang ketahanan pangan di Raja Ampat, saya menemukan fakta menarik bahwa sebuah tanaman bisa memiliki lebih dari satu peran. Alias peran ganda.
Mangrove menjaga ekosistem sekaligus menjadi sumber pangan. Hal itu mengingatkan saya pada mandai, makanan khas Kalimantan yang lahir dari kulit cempedak yang sering dianggap limbah. Dari sana saya belajar satu hal sederhana: menjaga alam sering kali berarti menjaga sumber pangan yang selama ini luput dari perhatian.
Saya belajar tentang cara pandang. Tentang bagaimana masyarakat Kampung Friwen di Raja Ampat menjaga hutan mangrove karena mereka tahu hutan adalah sumber kehidupan mereka.
Saya juga teringat bahwa di berbagai daerah Indonesia, termasuk Kalimantan, banyak kearifan lokal yang sebenarnya mengajarkan hal serupa: menghargai setiap anugerah yang diberikan alam.
Mangrove dan mandai mungkin berasal dari tempat yang berbeda. Namun keduanya sama-sama menyampaikan pesan yang penting:
Ketika kita menjaga alam, alam juga akan menjaga kita.
Dan mungkin itulah makna sebenarnya dari ketahanan pangan.
Bukan sekadar memiliki makanan hari ini, tetapi memastikan generasi berikutnya masih bisa menikmatinya esok hari.




.png)


Posting Komentar
Posting Komentar